12 October 2006

taksi oh taksi...



Semua orang Jakarta dan sekitarnya tentu sudah tahu bahwa di kota Jakarta ini pada jam-jam sibuk (seperti jam berangkat kantor, jam makan siang, dan jam pulang kantor)muacetnya suka ga ketulungan, apalagi dengan adanya proyek pembangunan koridor busway-nya Gubernur DKI Jakarta yang terhormat Abang Sutiyoso a.k.a Bang Yos! Mau lewat jalan-jalan protokol sampai lewat jalan-jalan tikus manapun demi menuju tempat tujuan pasti akan ketemu yang namanya si Macet ini. Jadi tinggal pinter-pinter kita aja untuk cari-cari jalan bagaimanapun caranya biar sampai ke tempat tujuan lebih cepat.

Kemarin malam kebetulan saya mendapatkan suatu pengalaman yang menurut saya kurang mengenakkan hati saya (baca: mengesalkan). Kebetulan kemarin itu, saya ada undangan untuk datang ke ulang tahunan tante saya di daerah Blok S, Kebayoran Baru. Meluncurlah saya dengan mengendarai taksi burung biru dari kantor di Menara Imperium yang terletak di ujung Jl. H.R. Rasuna Said. Kemacetan sudah dimulai sejak di depan Departemen Kesehatan, saya pun sudah mengusulkan kepada si Bapak Taksi untuk lewat Balai Kartini. Pak Taksi dengan pedenya menjawab,"Tidak, Mbak. Sama saja lewat Balai Kartini macet juga!". Saya mengalah...Akhirnya sewaktu sampai di depan Hotel Gran Melia, saya mengusulkan untuk putar lagi untuk lewat Balai Kartini. Lagi-lagi usulan saya ditolaknya. Dan benarlah dugaan saya, lolos dari Kuningan, kita kembali bertemu dengan macet dan menyebalkannya si Bapak Taksi naik ke atas jalur busway, jadilah kami tak bisa pindah jalur yang lebih lancar untuk mencari jalan lain yang lebih lancar. Rasanya saya itu gooonnndoook banget karena perjalanan sampai ke tempat tujuan benar-benar ketemu yang namanya macet terus, dan yang membuat hati saya tambah gondok ialah karena sang supir tidak mau mendengarkan kata-kata saya dan juga argo menjadi mahal sekali karena harus bertemu macet terus-menerus sampai tempat tujuan.

Pengalaman tidak menyenangkan lagi dengan taksi burung biru terjadi siang ini, di saat saya kembali menuju kantor dari makan siang di Plaza Indonesia. Lagi-lagi supir taksi tidak mendengarkan omongan saya. Cuma bedanya, kali ini seakan-akan dia menghindari macet dengan mencari jalan yang lebih memutar sehingga membuat argo lebih mahal. Padahal setelah saya intip dari atas jembatan Kuningan, jalan Latuharhari yang konon menurut supir taksi macet, ternyata lancar saja tuh...

Dua pengalaman yang menurut saya tidak menyenangkan ini, sempat membuat saya berpraduga buruk kepada para supir taksi itu...yaitu sengaja mencari jalan lebih memutar atau jalan yang macet untuk mendongkrak argonya agar lebih mahal...

Hmm..apakah mungkin mereka mencari rezeki lebih dengan bermacet-macet atau berputar-putar? We never know...

1 comment:

.Din. said...

hihi, pengalaman sebaliknya malah terjadi antara aku dan nita kemaren dari Salemba. Nyetop taksi, terus pas bilang mau ke kuningan dan kita nanya "macet ga pak?" "waah..macet...hhmm..Mbak ganti taksi aja ngga papa ya?" halah...supir taksi terpesimis yang pernah kutemui hihi...udah patah arang gitu...nolak rejeki huehehue